IDE DASAR MEMULAI BISNIS

  1. Blog
  2. IDE DASAR MEMULAI BISNIS


IDE DASAR MEMULAI BISNIS

IDE DASAR MEMULAI BISNIS

IDE DASAR MEMULAI BISNIS

Oleh : Hanungbayu Setiyabisma, Konsultan Bisnis

Anugerah, seorang mahasiswa, bercita-cita ingin menjadi pengusaha selepas lulus kuliah.

Dewi ingin berhenti bekerja dan memulai usaha di rumah setelah memiliki dua anak kecil yang butuh perhatian.

Pak Bambang yang sudah 10 tahun lebih berkarir di sebuah perusahaan swasta, ingin mencoba berbisnis di sela-sela kesibukannya.

Sementara Bu Hayati memasuki masa pensiun, dia ingin memiliki usaha agar kembali ada aktivitas dan mendapat penghasilan tambahan.

Mereka semua memiliki kebingungan yang sama, mau berbisnis apa? Ide-ide dasar apa saja yang bisa dijadikan awalan yang baik dan meminimalkan resiko dalam memulai bisnis?

Description: http://hanungbayu.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif

“Bisnis dapat berjalan karena ada transaksi dari

penciptaan nilai tambah (produk/jasa) oleh produsen bagi konsumen”.

Jadi, kita dapat memulai bisnis dari 3 pendekatan, yaitu produsen, konsumen, dan produk. Berikut ide-ide dasar dapat menjadi awal kita memulai bisnis.

1) Pendekatan resource based, yaitu dari sisi produsen (supply) dengan mengoptimalkan kompetensi kita. Kompetensi adalah kombinasi dari ilmu pengetahuan, keahlian/skill, pengalaman, jaringan, reputasi, dan sebagainya.

a) Bisnis berdasar hobi atau minat kita terhadap sesuatu.

“Esti hobi memasak.

Dia senantiasa meningkatkan cita rasa masakannya setiap hari.

Esti pun selalu mencoba masakan baru tiap minggu.

Tiap kali memasak, dia menawarkan masakannya pada para tetangga.

Ternyata cocok..

Akhirnya sekarang Esti telah memiliki bisnis catering sendiri”.

Ya.., membangun bisnis seperti kita membangun rumah tangga. Tentu kita akan memilih pasangan hidup sesuai kebutuhan dan keinginan kita. Nah, dari observasi yang saya lakukan, keberhasilan bisnis dimulai dari memilih bisnis sesuai dengan hobi atau minat.

Dengan hobi kita akan menikmati setiap tahapan proses bisnis kita. Kita akan memperlakukan bisnis kita sebaik mungkin karena kita mencintainya. Hobi sebagai bisnis menjadi sebuah passion, tidak sekedar mencari untung.

Apa kelebihan lainnya? Ya, biasanya kesamaan hobi memiliki komunitas. Ini sudah merupakan pangsa pasar yang bagus sebagai awalan memulai bisnis.

b) Bisnis sesuai dengan profesi/kompetensi yang kita tekuni selama ini.

“Anto sebelumnya adalah mekanik alat berat.

Pengalaman selama 10 tahun mengasah keahliannya.

Kini dia telah memiliki sendiri perusahaan penyewaan alat berat.

Baginya mengelola bisnis alat berat tidak sulit, karena telah mendarah daging dalam hidupnya.

Anto cepat mengantisipasi resiko alat beratnya,

tepat mengidentifikasi kerusakan,

mudah mendapatkan suku cadang,

reputasinya dipercaya pihak pembiayaan,

dan jaringan pasarnya sewa alatnya sangat luas”.

Ya.., kompetensi kita selama ini merupakan kekuatan dalam memulai bisnis. Kita tidak perlu start dari nol lagi. Kompetensi membuat tahapan proses bisnis yang kita lalui menjadi lebih mudah dan meminimalkan resiko yang muncul.

c) Bisnis yang serupa dengan bisnis keluarga maupun sahabat kita.

“Bisnis furniture Roni makin maju di Jakarta.

Dia butuh seseorang yang dipercaya sebagai partner untuk mengembangkan sayap bisnisnya.

Siapa lagi yang ditawari pertama kali jika bukan saudara atau sahabat.

Roni pun menggandeng sepupunya, Andreas.

Pada awalnya Andreas tidak paham sama sekali dengan bisnis ini,

bahkan jenis kayu pun dia tidak bisa bedakan.

Sejalan waktu, kini Andreas telah menguasai betul dunia furniture.

Bisnisnya makin berkembang dengan cabang dimana-mana”.

Membangun bisnis dari nol itu tidak mudah. Keluarga maupun sahabat dapat menjadi mentor/coach yang baik dalam memulai bisnis. Dengan begitu kita sudah melakukan jalan pintas/shortcut sehingga dapat meminimalkan resiko sekaligus mengakselerasi bisnis kita.

Namun memulai bisnis dengan cara ini perlu memperhatikan etika. Jangan sampai ikatan darah maupun persahabatan terputus karena ada salah satu pihak yang mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan.

2) Pendekatan market based, yaitu dari sisi konsumen dengan melihat potensi permintaan (demand) atas kebutuhan dan keinginannya.

a) Kita melihat adanya peluang pasar yang potensial.

“Dari makelar fotokopi, akhirnya Haryo menjadi juragan fotokopi.

Sejak kuliah, dia melihat ada kebutuhan mahasiswa untuk fotokopi buku.

Bermula dari memenuhi kebutuhan rekan sekelasnya,

Haryo makin terkenal sebagai seorg penyedia jasa fotokopi yang handal.

Dia mengambil komisi tiap lembarnya dari toko fotokopi langganannya.

Berbekal order yang makin besar, dia pun berani membeli alat fotokopi sendiri”.

Fokus utamanya ide dasar ini adalah adanya peluang pasar/konsumen, tidak peduli kita punya kompetensi atau tidak. Kita bisa memulai sebagai makelar terlebih dahulu. Atau bisa juga mengajak kerjasama dengan pemilik usaha yang telah jalan.

Setelah jalan dan terlihat prospeknya, serta lama-kelamaan kita memiliki kompetensi di bidang tersebut, kita dapat memulai membuka bisnisnya sendiri.

b) Kita memiliki previledge atau fasilitas khusus

“Sementara itu di kampus seberang,

mahasiswa dilarang menggunakan buku fotokopian tanpa stempel koperasi.

Artinya, mau tidak mau mahasiswa HARUS membeli di koperasi tersebut.

Haryo tidak bisa masuk ke pasar yang dilindungi.

Koperasi memiliki previledge atau fasilitas khusus”.

Jika kita memiliki previledge atau fasilitas khusus, maka kita memiliki pasar yang dilindungi dan sifatnya captive market. Memulai usaha dengan adanya fasilitas khusus memberikan kemudahan dan meminimalisir resiko.

3) Pendekatan product based, yaitu dari konsep/model penciptaan nilai tambah yang murni baru atau inovasi dari produk/jasa yang sudah ada.

a) Menciptakan konsep bisnis yang baru/belum pernah ada sebelumnya.

“Iqbal, seorang mahasiswa UI, merasa kesulitan mencuci pakaian di kosnya.

Alasannya ketiadaan mesin cuci, upah bibi cuci yang sudah mahal,

malas mencuci pakai tangan, hingga pakaian susah kering karena Depok sering hujan.

Iqbal melihat kondisi ini juga dialami oleh mahasiswa lain.

Akhirnya dia mencoba ide yang belum pernah ada sebelumnya,

membuka bisnis loundry kiloan ala mahasiswa.

Loundry kiloan ini merupakan terobosan karena praktis, murah, dan cepat.

Pagi pakaian masuk, sore pulang kuliah sudah kering & disetrika.

Bisnis baru ini pun cepat menjamur di Depok”.

Ide datang kapan saja dan hampir setiap orang punya ide. Namun merealisasikan ide menjadi bisnis dengan menciptakan konsep/model bisnis baru itu yang sulit.

Dibutuhkan nyali yang luar biasa karena belum ada contoh bisnis yang telah berjalan dan resiko yang terukur. Ketika bisnis baru ini berjalan, biasanya akan cepat ditiru dan berkembang.

Namun keunggulan seorang pioneer adalah dia selalu selangkah di depan dibanding pesaing, karena lebih dulu melakukan perbaikan pada proses (continuous improvement), sehingga senantiasa unggul kualitas, harga, dan pengantaran.

b) Kita melihat bisnis orang lain dan yakin dapat membuatnya lebih baik.

“Dua tahun lalu Arif membuka bisnis cuci mobil.

Terkesan bisnis tersebut sederhana.

Hanya bermodal tanah, air berlimpah, pembuangan lancar,

alat2 produksi yang mudah didapat, dan tenaga kerja yang tidak butuh keahlian khusus.

Namun mengapa bisnis cuci mobil Arif lebih ramai dibandingkan pesaing di sekitarnya?

Tentu karena konsumen puas dan kembali lagi.

Puas adalah ketika apa yang diterima konsumen melebihi ekspektasinya.

Ternyata di tempat cuci mobil Arif, konsumen tidak hanya mendapatkan mobilnya bersih,

namun juga fasilitas wifi gratis, teh botol gratis, program cuci gratis setelah 10x cuci,

tempat menunggu yang nyaman, dan pelayanan yang ramah”.

ATM – Amati, Tiru, Modifikasi merupakan ide bisnis yang paling mudah. Optimalkan semua panca indera kita terhadap bisnis yang ada di sekeliling kita. Kemudian berinovasi.

Ciptakan manfaat/nilai tambah lain yang dapat dipadukan sehingga konsumen merasa lebih puas dengan produk bisnis kita dibandingkan pesaing.

HBS@2017


share: